Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Singkat Perjalanan Nasib Kurikulum Pendidikan Nasional di Indonesia

 



Hingga saat ini, sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945, setidaknya kita telah mengenal 10 kurikulum, yaitu kurikulum-kurikulum tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006 dan terakhir 2013. Jeda waktu antara satu kurikulum dan kurikulum berikutnya berkisar dari 5, 12, 4, 7, 9, 10, 10, 2 dan 7 tahun. Pergantian kurikulum yang semakin cepat dipengaruhi perubahan politik sehingga dalam kurun waktu 7 tahun setelah merdeka kita menerapkan 2 kurikulum.

 

Dengan kata lain, turbulensi politik berdampak pergantian kurikulum. Dari tahun 1952 – 1964, selama 12 tahun kita bertahan menerapkan Kurikulum 1952. Dari satu segi kenyataan ini dapat dipandang sebagai akibat kurang diprioritaskannya pendidikan. Atau, karena konsistensi pemikiran pedagogis yang dianut para pengambil keputusan di bidang pendidikan. Kurikulum 1964 hanya diterapkan 4 tahun, lalu kita beralih ke Kurikulum 1968. Ini disebabkan oleh peralihan dari kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru.

 

Kurikulum 1968 dilaksanakan selama 7 tahun, kemudian terbit Kurikulum 1975 yang cukup komprehensif dari segi pengembangan kurikulum. Kurikulum 1975 lahir sebagai dampak semakin terbukanya negara kita terhadap pengaruh Barat setelah PKI tersingkir dari arena perpolitikan Indonesia. Kurikulum ini lahir sebagai hasil kerja sama internasional karena dunia politik dan ekonomi Indonesia yang semakin terbuka terhadap Blok Barat. Kemudian, lahir Kurikulum 1984 sebagai dampak hasil riset pendidikan, inovasi kurikulum dan pendidikan di Indonesia, serta perkembangan di negara-negara lain sejak awal 1970-an yang perlu ditampung dalam kurikulum baru.

 

Pemberlakukan kurikulum baru dalam sejarah pendidikan di Indonesia itu penting sebagai motor penggerak pembaharuan atau pengadaan berbagai komponen pendidikan yang lain, seperti buku pelajaran, sarana belajar lain, metodologi mengajar, penilaian dan ujian, dan kurikulum lembaga pendidikan guru. Kemudian, lahir Kurikulum 1994 untuk menampung hasil inovasi kurikulum dan pendidikan yang sudah cukup meyakinkan, pendekatan komunikatif dalam bahasa, belajar aktif dalam IPA, IPS, dan mata pelajaran lain, serta perlunya diterapkan mata pelajaran desain dan teknologi di sekolah. Walaupun pada Kurikulum 1947, 1964, dan 1968, lalu kemudian pada Kurikulum 1984 dan 1994 pendekatan belajar aktif ditekankan, sejak kemerdekaan, mulai dari Kurikulum 1947 sampai dengan Kurikulum 1994, selama 47 atau hampir 50 tahun kita tetap belum terlepas dari pendekatan pengembangan kurikulum berbasis materi atau pengetahun (content-based curriculum development).

 

Kondisi tersebut kemudian diperbaiki menjadi lebih baik dengan munculnya kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Strategi yang dibawa antara lain Contextual Learning. KTSP ini juga kemudian dilengkapi dengan pendekatan yang humanis yakni PAKEM atau PAKEMI. PAKEM/PAKEMI adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (serta Inovatif). Kehadiran KTSP ini merupakan penyempurnaan dari pendekatan CBSA sebelumnya yakni pada kurikulum tahun 1984. CBSA merupakan singkatan dari Cara Belajar Siswa Aktif.

Perjalanan berikutnya juga disempurnakan dengan hadirnya Kurikulum 2013 atau yang lebih familier dengan sebutan K-13. Pada kurikulum inilah mulai secara spesifik dimunculkan empat kompetensi yakni Kompetensi Religi (KI-1), Kompetensi Sosial (KI-2), Kompetensi Pengetahuan (KI-3), dan Kompetensi Keterampilan (KI-4). Pada K-13 ini pula, terjadi perubahan drastis dari yang semula materi berlabel pelajaran (seperti Pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dsb) berubah bentuk dan dikemas dalam satu tema tertentu. Hampir seluruh materi yang dulu bernama pelajaran, menjadi hanya muatan untuk memperkuat tema pada K-13 ini. Selain itu, pada perjalanannya, K-13 ini menuai banyak masalah. Salah satunya keluar masuknya Matematika dari buku paket utama (Tematik).

Dan saat ini kita akan memasuki era baru, seperti akan ada perubahan kurikulum baru. Isu yang terdengar K-13 akan berubah atau diganti dengan Kurikulum Nasional. Walaupun masih wacana, beberapa gerakan sudah tampak antara lain Program Sekolah Penggerak, Guru Penggerak, Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, dan sebagainya. Apapun takdir perjalanan kurikulum pendidikan Indonesia, berharap lebih baik, lebih aplikatif, lebih efektif dan efisien, bernilai guna tinggi, memberi bekal nyata kepada peserta didik, setidaknya lebih mendongkrak rapor mutu pendidikan nasional di mata dunia.

 

Kunjungi juga:

Guru Harapan Masa Depan Bangsa


ck; text-align:center;'/>
Cocokpedia
Cocokpedia Dapur Mikir

Post a Comment for "Sejarah Singkat Perjalanan Nasib Kurikulum Pendidikan Nasional di Indonesia"