Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jangan Ambil Adikku

 Jangan Ambil Adikku 

Karya Ifa waktu masih SD



 Syifa adalah gadis kecil yang imut, berkulit putih cantik,  berbulu mata lentik dan memilikipipi yang chubby, gadis kecil yang selalu riang. syifa juga tidak tinggal serumah dengan kakaknya karena dari kecil kakaknya sudah nyaman tinggal bersama kakek dan neneknya.

Seperti hari hari biasanya, sore hari adalah waktu yang selalu syifa tunggu untuk bermain  bersama teman temannya, dengan rasa gembira syifa berlari keluar rumah, mengambil sepedanya dan menunggu teman temannya, sudah cukup lama bagi syifa untuk menunggu, tetapi tak ada satupun temannya yang keluar.

‘’Teman teman kemana ya, tumben lama keluarnya, emm.. apa aku ke taman aja ya, siapa tau mereka ada disana’’ batin syifa dalam hati.

Dengan segera syifa langsung mengayuhkan sepedanya dengan cepat menuju taman, sesampainya di taman syifa langsung meningggalkan sepedanya yang terjatuh dan berlari menghampiri teman temannya, dengan senyum imutnya, syifa menyapa teman temannya sambil melambaikan tangan.

‘’Haii teman teman, main bareng yuk’’

‘’Nggak ah, aku mau main sama kakak ku’’ kata zila, salah satu teman syifa

‘’Iya, kita lagi mau main sama kakak kita syifaa…’’ kata teman syifa yang lain

‘’Kalau gitu aku ikutan ya’’ ucap syifa dengan wajah kembali ceria

‘’Nggak boleh. Ini cuma aku dan kakak!, udah kamu main sendiri aja sana’’

‘’Sebentar aja kok..’’

 ‘’Kalau aku bilang nggak ya nggak! Kamu kan punya kakak, sana ajak main kakakmu sendiri’’   bentak zila sambil mendorong syifa sampai terjatuh.

 Syifa berusaha menahan tangis di depan teman temannya dan berusaha tetap tersenyum lagi,  ‘’Yaudah deh aku main sendiri aja sambil mau nyari kakak’’ hibur dirinya dalam hati, lalu ia kembali mengambil sepedanya dan mulai meninggalkan taman.

Diperjalan syifa melihat banyak anak cowok sedang bermain petak umpet disebuah gang perumahan, dan syifa mulai yakin disana pasti ada kakaknya juga, pelan pelan syifa menghampiri mereka dan mencari kakaknya, saat syifa fokus mencari kakaknya, ia tidak sengaja tertabrak dengan vano, salah satu teman kakaknya yang sedang berlari terburu buru.

‘’Eh maaf deek’’

‘’Gapapa kak, oh iya, kak Daffa dimana kak?’’ Tanya syifa cepat

‘’Daffa.. itu dek yang menghitung, kakak duluan ya’’ jawab vano terburu buru

Dalam hati syifa masih ragu untuk menghampiri kakaknya yang sedang bermain, jadi syifa menunggu hingga kakaknya selesai menghitung, tidak lama.. melihat kakaknya sedang mencari teman temannya, syifa langsung berlari menghampirinya.

‘’Kakak… syifa ikut main ya’’ ucap syifa cepat

 ‘’Kamu..ngapain disini? Pulang’’ jawab daffa kaget

‘’Syifa mau ikut main sama kakak, boleh ya..’’

‘’Nggak, pulang aja sana’’ usir daffa

Syifa sedih mendengar perkataan daffa tadi, kata katanya masih syifa ingat sambil ia menghampiri sepedanya di sebrang jalan, pandangan syifa terus kedepan, tidak menoleh kanan kiri, dan syifa tidak sadar di sebelah kanannya ada mobil melaju sangat kencang.

‘’Syiffaaaa awaaasss…’’ teriak daffa berlari dan mendorong syifa kepinggir jalan, daffa hanya terkena serempet sedikit di kakinya dan lukanya tidak begitu parah.

 ‘’Kakak.. kakak gapapa? ayo kita pulang kak, obati luka kakak’’ spontan syifa panik

 ‘’Nggak, kakak gapapa, makanya kalau jalan liat liat, pake melamun segala lagi’’ ucap daffa sambil mengelus luka di kakinya

    ‘’Maafin syifa ya kak, gara gara syifa kakak jadi luka’’ jawabnya sedih

    ‘’Udahlah, kamu pulang aja sana’’ lalu meninggalkan syifa sendiri

 Saat perjalanan syifa melihat teman temannya di lapangan sedang bermain, tanpa berfikir lagi syifa langsung menghampiri teman temannya itu,

 ‘’Teman teman, kalian ngapain disini?’’ ucap syifa sambil memarkirkan sepedanya dan berlari menuju temannya

‘’Lagi main lah’’ kata zila sinis

‘’Aku boleh ikutan gak?’’

‘’Boleh aja kok’’ jawab caca, teman syifa

‘’Kita cerita cerita aja yuk, cerita tentang kakak kita gimana?’’ saran fara

‘’Boleh tu, dari kamu dulu deh far’’ sahut zila lagi

 Dan syifa hanya menyimak pembicaraan mereka sambil tersenyum.

‘’Kakak aku itu mau ngelakuin apa aja buat aku, apa yang aku mau selalu kakak turuti, kakak aku juga lembut, gak pernah marah marah’’ cerita farah

‘’Iya kakak aku juga gitu’’ sambung caca, membuat yang lainnya juga ikut berpendapat sama, kecuali syifa, syifa hanya ikut tersenyum mendengar cerita temannya

 ‘’Kalau kamu syif?’’ Tanya caca

 ‘’Kakak aku..’’ ucap syifa ragu pikirannya mengingat hal hal tentang kakaknya, matanya mulai berkaca kaca

‘’Kakak aku baaiikk banget, dia sayang sama aku, dia selalu ngajarin aku buat jadi orang yang mandiri’’ ucap syifa sambil menunjukan senyum manisnya

‘’Mandiri? Tapi kok kita gak pernah liat kamu main sama kakak kamu ya’’ oceh zila sambil tertawa

‘’Nggak, kakak aku memang gak suka kalau main diluar sama aku, tapi dirumah dia selalu ngajak aku main’’ jawab syifa sambil menatap zila

‘’Kakak aku itu juga rela ngorbanin apapun untuk aku, tadi aja aku hampir ditabrak mobil, untung ada kakak, walaupun kakinya harus luka’’ sambung syifa lagi dengan air matanya yang mulai menetes membasahi pipi imutnya

‘’Waah, kamu harus  bersyukur syifa punya kakak, kaya kakak kamu’’ kata caca membuat syifa tersenyum

‘’Dasar cengeng gitu aja nangis, katanya mandiri, Syifaa cengeng.. syifaa cengeng’’, Oceh zila semakin menjadi, membuat syifa pergi dengan air matanya yang terus mengalir, syifa berlari mengambil sepeda dan mengayuh sepedanya sangat kencang, dalam perjalanan syifa melamun lagi dengan kata kata zila yang menyakitkan itu, syifa tidak sadar bahwa ia berada di tengah jalan yang banyak kendaraan kendaraan melintas, syifa mengayuh sepedanya dengan pikiran kosong dan arahnya yang tak karuan, banyak kendaraan yang mengelaksoni syifa tapi syifa tetap tidak mendengar, dan sampai akhirnya dari arah yang berlawanan syifa tertabrak truk hingga membuat dirinya terpental, syifa di tolong banyak orang, dan ada salah satu tetangganya yang ikut membantu syifa, lalu mengabari keluarganya.

PYAARRTTT… ‘’APA? SYIFA KECELAKAAN?’’ gelas beling yang dipegang lina, lina adalah bunda syifa, pecah seketika setelah mendengar kabar bahwa syifa kecelakaan, lina tidak bisa menahan air mata dan teriakan sesaknya, segera doni dan lina pergi ke rumah sakit, sesampainya disana mereka mencari tau keberadaan syifa kepada salah satu perawat.

 ‘’Atas nama syifa, pasien yang baru saja kecelakaan itu sekarang lagi ditangani dokter di ruang UGD’’ ucap perawat sambil bergegas mengantar lina dan doni ke UGD, dan ketepatan dokternya baru saja keluar dari ruangan itu

‘’Dokter bagaimana keadaan anak saya dok, saya ibunya’’ Tanya lina khawatir

‘’Saat ini anak ibu sedang mengalami koma, terjadi benturan sangat keras di kepalanya, sehingga terjadi gegar otak serius, darah yang dikeluarkannya juga cukup banyak dan kemungkin syifa untuk selamat sangat kecil, untuk itu jangan putus untuk selalu berdoa, kalau begitu saya tinggal dulu’’ jelas dokternya dan langsung beranjak pergi.

 Tangis lina semakin menjadi hingga membuatnya pingsan.

Tidak lama.. kakek nenek dan kakak syifa juga datang ke rumah sakit, neneknya menagis histeris mendengar syifa koma, daffa hanya mendekatkan dirinya dan melihat syifa pada kaca jendela ruang syifa koma, sambil mengingat hal hal yang pernah ia lakukan pada syifa, daffa menangis, menyesal karena tidak pernah nerima ajakan syifa untuk bermain, tangisan daffa semakin pecah melihat kondisi adiknya kini terbaring lemah dengan banyak di kelilingi selang infus di tubuhnya.

‘’Syifaa.. ini kakak.. kakak mau main sama kamu dek’’ batinnya dalam hati

‘’Sekarang liat kan?? liat kan daffa?? Syifa koma! Selama ini syifa selalu berharap bisa bermain dengan kakaknya seperti temannya yang lain, bunda tau.. syifa kadang suka menangis di kamarnya sambil bercerita mimpi mimpinya bermain dengan kakaknya’’ ucap lina ketika melihat daffa.

 

Suasana menjadi tegang, daffa tidak bisa lagi menahan sakit di hatinya.

 Tiba tiba dokternya datang dan berlari menuju ruangan syifa, semua panik  dan tidak tahu apa yang telah terjadi pada syifa. Setelah dokternya keluar…

 ‘’Bagaimana keadaan anak saya dok? Apa yang terjadi?’’ Tanya lina panik

‘’Syifa harus segera menemukan donor darah kalau tidak.. dia tidak akan selamat’’ tegas dokternya

‘’Kalau gitu ambil darah saya saja dok’’ sambung daffa spontan

‘’Usia pendonor harus di atas 17 tahun dek..’’ senyum dokter sambil membelai rambut daffa

Lina dan doni tiba tiba serempak ingin mendonorkan darah mereka untuk syifa, lalu mereka dibawa ke ruangan untuk mengecek darah, setelah di cek, darah yang sama dengan syifa itu lina, kemudian dokter mengontrol lagi kesehatan lina

‘’Maaf bu.. apa anda sedang hamil?’’ Tanya dokter

‘’Iya dok.. saya baru hamil 1 bulan, tapi bisa kan dok mendonor darah saya’’

‘’Maaf.. selama kondisi lagi hamil tidak bisa, dan itu akan sangat beresiko jika terus di lakukan’’ ucapnya dengan berat hati

Tiba tiba terdengar suara teriakan daffa memanggil dokter, menyangkut kondisi syifa, semua masuk ke ruangan itu untuk melihat syifa, lina yang paling dekat di sisi syifa dan melihat tangan syifa bergerak pelan dan matanya mulai dibuka, semua memanggil nama syifa dengan senyum dan air mata bahagia, syifa mulai membuka mulutnya dan memanggil semua, daffa segera menghampiri syifa saat ia mendengar syifa memanggilnya

‘’kakak.. syifa sayang kakak.. kakak paling hebat yang syifa punya, kakak harus janji ya.. kalau syifa gaada nanti.. ada dedek bayi di perut bunda yang harus kakak jaga dan sayangi, jangan buat dedek sedih kak, syifa bahagiaa banget punya kakak seperti kak daffa..bunda..ayah..kakek dan nenek..syifa mau pergi sama ibu peri dulu ya, maafin syifa’’, ucap terakhir syifa dan matanya yang terpejam dengan senyum imut terakhirnya, semua harus ikhlas menerima kepergian syifa.

1 tahun kemudian.. lina melahirkan bayi perempuan yang mirip sekali dengan syifa dan doni memberikannya nama syifa, daffa yang kini sudah beranjak dewasa sudah mengerti dan menjadikan semua yang terjadi dulu sebagai pelajaran.

‘’Kakak janji dek, akan selalu menyayangi menjaga dan selalu ada untuk syifa.’’




Kalau masih kurang, pengen baca lebih banyak, kunjungi saja:

KECIL-KECIL BERKARYA

 

 

ck; text-align:center;'/>
Cocokpedia
Cocokpedia Dapur Mikir

Post a Comment for " Jangan Ambil Adikku "