Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Keyakinan Kelas Wujudkan Merdeka Belajar Di Kelas Presiden



Mewujudkan budaya positif dilingkungan kelas, perlu diawali dengan menciptakan lingkungan yang disiplin, tentu disiplin positif yang berasal dari motivasi interinsik.Penulis menciptakan lingkungan disiplin positif dengan proses pembiasaan dan kesadaran bersama terhadap pentingnya disiplin positif sebagai sebuah kebutuhan bukan lagi kewajiban.




Menciptakan lingkungan dengan disiplin positif tidak akan efektif jika melalui proses hukuman dan penghargaan karena kedua hal tersebut akan membuat murid menjadi ketergantungan. Murid disiplin karena takut pada sanksi dan hukuman atau sebaliknya murid disiplin karena hanya mengharapkan pujian atau imbalan. Jika keduanya tidak ada maka murid tidak akan disiplin.

Untuk itu perlu pembiasaan kesadaran nilai-nilai kebaikan dan kebajikan universal yang perlu dilakukan secara bersama-sama sehingga terbentuk keyakinan kelas dan semua murid saling mentriger melakukan keyakinan kelas secara tulus untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain.

Tentu keyakinan kelas dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia, apabila kebutuhan dasar manusia terpenuhi secara proporsional maka akan terjadi interaksi yang bersifat simbiosis mutualisme. Pada akhirnya akan tercipta ekosistem yang berkualitas sehingga tidak ada lagi kompetensi berlebihan tetapi saling memberi dan menerima dalam suasana kolaboratif. Penulis telah menerapkan penyusunan keyakinan kelas di kelas Presiden (kelas Va SDN Pangarangan III kabupaten Sumenep provinsi Jawa Timur), berikut langkah-langkah yang telah dilakukan:

a. Murid menonton film inspiratif
Proses awal ini untuk menanamkan pemahaman bersama tentang interaksi sosial yang menerapkan nilai-nilai kebajikan universal dalam kehidupan nyata yang disajikan dalam film.
b. Murid bercurah pendapat tentang nilai-nilai yang terkandung dalam film.
Murid mencurahkan pendapatnya tentang interaksi sosial yang menerapkan nilai-nilai kebajikan universal yang disajikan dalam film.
c. Guru menulis pendapat murid
Guru mengakomodir semua pendapat murid tentang interaksi sosial yang menerapkan nilai-nilai kebajikan universal yang disajikan dalam film. Guru dan murid mendiskusikan hasil curah pendapat secara klasikal untuk memantapkan pemahaman murid terhadap nilai-nilai kebajikan universal yang disajikan dalam film.
d. Guru membagikan potongan kertas ke kelompok belajar.
Potongan kertas yang dibagikan berisi kalimat yang menjabarkan prilaku yang mengandung nilai-nilai baik dan buruk.
e. Murid berdikusi dalam kelompok.
Diskusi dalam kelompok dilakukan untuk menentukan prilaku yang mengandung nilai-nilai baik dan buruk
f. Guru membuat kolom di papan tulis
Satu kolom untuk prilaku yang mengandung nilai-nilai baik dan kolom lainnya buruk untuk prilaku yang mengandung nilai-nilai kurang baik.




g. Murid menempelkan hasil diskusinya.
Murid memajang hasil diskusi kelompok pada kolom di papan tulis sesuai dengan perilaku yang mengandung nilai-nilai baik maupun kurang baik.
h. Murid mengevaluasi hasil diskusi.
Murid mengevaluasi hasil diskusi kelompok lain yang telah di tempel di papan tulis.
i. Murid mempresentasikan hasil evaluasinya.
Masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil evaluasinya terhadap kelompok lain dan kelompok yang dievaluasi diberikan kesempatan pula untuk menyampaikan argumentasinya merespon hasil evaluasi kelompok lain.
j. Keyakinan kelas tersusun sebagai kebutuhan bersama.
Setelah melalui proses diskusi dan adu argumentasi akhirnya keyakinan kelas tersusun dengan mengambil prilaku yang mengandung nilai-nilai baik.
k. Keyakinan kelas disosialisasikan ke wali murid.
Perlu kolaborasi dengan wali murid supaya keyakinan kelas juga dibiasakan dilingkungan rumah.


Peduli terhadap sesama teman, merupakan Salah satu poin dalam keyakinan kelas presiden (VA). Murid kelas presiden berinisiatif sumbangan secara sukarela untuk membelikan sepatu salah satu temannya yang sudah rusak,kepedulian itu timbuil tanpa intervensi dari guru. Itulah dampak nyata dari implementasi keyakinan kelas di kelas presiden.



Untuk lebih membiasakan murid berinteraksi menerapkan keyakinan kelas yang telah disusun di kelas Presiden dalam memenuhi kebutuhan dasar murid,penulis perlu memahami posisi kontrol sehingga dapat menuntun murid secara tepat dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Posisi kontrol menajer merupakan yang paling efektif karena mengajarkan murid untuk bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.

Penerapan posisi kontrol menajer akan lebih efektif ketika guru menggunakan segitiga restitusi yang terdiri dari; menstabilkan identitas,validasi tindakan yang salah,dan menanyakan keyakinan. Segitiga restitusi memberikan ruang kepada murid secara berlahan memahami perbuatannya dan berusaha untuk bertanggung jawab terhadap perbuatan itu tanpa adanya intrvensi berlebihan dari guru tetapi timbul dari kesadaran internal murid.

Pembentukan budaya positif dengan mengimplementasikan keyakinan kelas di kelas presiden menciptakan interaksi belajar yang merdeka secara intelektual, emosional, dan sosial. Murid pun dapat mengembangkan potensinya sesuai kodrat alam guna menjawab tantangan jaman.
ck; text-align:center;'/>

2 comments for "Keyakinan Kelas Wujudkan Merdeka Belajar Di Kelas Presiden"

  1. Luar biasa.. keren pak Andi. Keyakinan kelas yang Top.

    ReplyDelete
  2. Sangat menginspirasi, Pak Andi. Terima kasih karena sudah memunculkan tambahan gagasan untuk diterapkan di kelas kami.

    ReplyDelete